6/30/2015

TAFSIR SURAT AL BAQARAH AYAT 135-141

Tafsir Al Qur'an Surat Baqarah Ayat Yang Ke: 135, 136, 137, 138, 139, 140, Dan 141.
Ini merupakan lanjutan dari Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 130-134.

Ayat 135-138: Menyebutkan bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyangka bahwa hidayah (petunjuk) terletak pada mengikuti mereka dan menerangkan, bahwa petunjuk yang sebenarnya terletak dalam mengikuti ajaran Islam

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٣٥) قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (١٣٦) فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٣٧) صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (١٣٨

135. Dan mereka berkata: “Jadilah kamu (penganut) agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus (Islam)[1] dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan tuhan.”

136.[2] Katakanlah (hai orang-orang mukmin)[3], “Kami beriman[4] kepada Allah[5] dan kepada apa yang diturunkan kepada kami[6], dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim[7], Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya[8], dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka[9]. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka[10], dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”[11].

137. Maka jika mereka[12] telah beriman sebagaimana yang kamu imani[13], sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah akan memelihara kamu dari mereka, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [14]

138. (Peganglah) Shibghah Allah[15], siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan (katakanlah) hanya kepada-Nya Kami menyembah[16].

Ayat 139-141: Menerangkan bantahan terhadap orang-orang yang menyangka bahwa Ibrahim dan anak cucunya adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani, serta menerangkan bahwa sangkaan ini hanyalah sikap mengingkari, keras kepala dan jauh dari kenyataan

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (١٣٩) أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (١٤٠) تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤١

139. Katakanlah[17]: “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu[18]. Bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami dengan tulus mengabdikan diri.

140. Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?[19] Katakanlah: “Kamukah yang lebih tahu atau Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah[20] yang ada padanya?” dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan[21].

141. Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan[22].


[1] Mengikuti Nabi Ibrahim itulah seseorang akan mendapatkan petunjuk, di mana Beliau seorang yang bertauhid dan menjauhi syirk.

[2] Ayat yang mulia ini mengandung hal-hal yang wajib kita imani. Iman adalah pembenaran dari hati kepada dasar-dasar ini, iqrar (pengakuan di lisan) dan pengamalan dengan anggota badan. Berdasarkan arti ini, maka kata iman sudah termasuk ke dalamnya Islam, demikian juga termasuk ke dalam iman semua amal shalih. Amal shalih adalah bagian dari iman dan salah satu atsar (pengaruh) di antara atsar-atsarnya. Oleh karena itu, jika disebutkan iman secara mutlak, maka hal-hal tadi termasuk di dalamnya. Demikian juga kata “Islam”, jika disebutkan secara mutlak, maka masuk juga ke dalamnya iman. Namun apabila disebut Iman dan Islam secara bersamaan, maka iman adalah sesuatu yang menancap di hati berupa pembenaran dan pengakuan, sedangkan Islam sebagai nama untuk amal-amal yang nampak di luar. Sama seperti ini, jika disebut iman dan amal shalih. Iman adalah sesuatu yang menancap di hati, sedangkan amal shalih adalah amalan yang nampak di luar.

[3] Maksudnya: perkataan yang dibenarkan oleh hati. Inilah perkataan yang sempurna yang akan diberi pahala. Sebaliknya, jika terbatas di lisan saja tanpa masuk ke dalam hati, maka hal itu merupakan nifak dan kekufuran. Perintah untuk mengatakan hal-hal di atas adalah isyarat untuk mengi’lankan (menampakkan secara terang-terangan) ‘Aqidah Islam sekaligus mendakwahkan manusia kepadanya.

[4] Pada kata-kata ini “Kami beriman” dinisbatkan kepada umat Islam secara menyeluruh yang menunjukkan wajibnya mereka berpegang dengan agama Allah dan bersatu di atasnya serta larangan berpecah-belah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kaum mukmin itu seperti satu jasad.

[5] Kata-kata ini menunjukkan bolehnya seseorang menyebut dirinya beriman ‘ala wajhit taqyid (secara tafshil, seperti: “saya beriman kepada Allah”, “saya beriman kepada kitab-kitab Allah” dsb.), bahkan hal itu wajib. Berbeda jika mengatakan “saya seorang mukmin”, maka harus disertakan istitsna’ (kata Insya Allah) karena di dalamnya terdapat tazkiyah (anggapan suci terhadap diri) dan persaksian dirinya sebagai mukmin.

Beriman kepada Allah mencakup beriman bahwa Allah itu ada, Dia sebagai Rabbul ‘alamin (Pencipta, Penguasa dan Pemberi rezeki alam semesta), Mahaesa, memiliki sifat sempurna, bersih dari sifat kekurangan dan cacat, yang satu-satunya berhak diibadahi dan tidak boleh disekutukan.

[6] Mencakup beriman kepada Al Qur’an dan As Sunnah, berdasarkan surat An Nisa': 113 yang di sana disebutkan “wa anzalallahu ‘alaikal kitaaba wal hikmah“. Oleh karena itu, dalam beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada kita mencakup beriman kepada isi Al Qur’an dan As Sunnah, seperti tentang sifat-sifat Allah, sifat-sifat rasul-Nya, tentang hari akhir, hal-hal ghaib yang telah lalu dan yang akan datang serta beriman kepada kandungan Al Qur’an dan As Sunnah berupa hukum-hukum syar’i yang berupa perintah dan larangan dan hukum-hukum jaza’i (pembalasan terhadap amal) dsb.

[7] Seperti shuhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).

[8] Mereka adalah para nabi yang berasal dari keturunan Ya’qub (Bani Israil).

[9] Dalam beriman kepada kitab-kitab Allah, kita mengimaninya secara ijmal dan tafshil. Secara ijmal (garis besar) maksudnya kita mengimani bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menurunkan kitab-kitab atau shuhuf kepada para nabi meskipun tidak diberitahukan kepada kita namanya seperti pada ayat di atas. Sedangkan secara tafshil (rinci) adalah kita mengimani kitab-kitab tersebut secara rinci, yakni yang disebutkan nama kitabnya dan siapa yang menerimanya karena kemuliaan mereka sehingga disebutkan namanya dalam Al Qur’an dan karena mereka datang membawa syari’at-syari’at yang agung. Misalnya: Mengimani Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam.

Dari ayat ini kita juga mengetahui bahwa nikmat agama yang benar merupakan nikmat yang sangat besar karena terkait dengan bahagia atau sengsara seseorang di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak menyuruh kita mengimani apa yang diberikan kepada para nabi berupa kerajaan, harta dsb. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita beriman kepada apa yang diberikan kepada mereka berupa kitab-kitab dan syari’at mereka..

Disebutkan kata “Mirr rabbihim” (dari Tuhan mereka) terdapat isyarat bahwa termasuk kesempurnaan rububiyyah (kepengurusan) Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan mengutus para rasul, dan Rububiyyah-Nya kepada hamba-hamba-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan mereka begitu saja dalam kebingungan.

Apabila yang diberikan kepada para nabi itu berasal dari Tuhan mereka, maka di sana terdapat perbedaan antara para nabi dengan orang-orang yang mengaku sebagai nabi, yaitu dengan melihat apa yang mereka dakwahkan. Para rasul tidaklah mendakwahkan selain kepada kebaikan dan tidak melarang kecuali dari perbuatan buruk, masing-masing mereka saling membenarkan tidak bertentangan karena memang sama-sama berasal dari Tuhan mereka, berbeda dengan orang yang mengaku sebagai nabi, pasti terjadi pertentangan antara berita yang mereka sampaikan, demikian juga pada perintah dan larangan sebagaimana hal itu diketahui oleh orang yang biasa mengkaji.

[10] Maksudnya: tidak membeda-bedakan dalam beriman, yakni semuanya mereka imani tidak seperti orang-orang Yahudi yang beriman hanya sampai kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan tidak seperti orang-orang Nasrani yang beriman hanya sampai kepada Nabi Isa ‘alaihis salam. Padahal kafir kepada seorang nabi, sama saja kafir kepada semua nabi.

[11] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan beberapa hal yang wajib diimani, baik secara umum maupun khusus, sedangkan ucapan tidak berhenti sampai di situ, bahkan membutuhkan kerja nyata atau amal, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan untuk menambahkan “dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya“, yakni tunduk kepada keagungan-Nya dan patuh beribadah kepada-Nya baik zhahir maupun batin sambil mengikhlaskan diri hanya kepada-Nya.

Ayat di atas meskipun ringkas, namun sebenarnya mencakup beberapa hal, di antaranya:

– Tauhid yang tiga; tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma’ wash shifat.

– Beriman kepada semua Rasul.

– Beriman kepada semua kitab.

– Disebutkan sebagian para rasul setelah menyebutkan beriman kepada para rasul secara umum menunjukkan keutamaan mereka di atas yang lain.

– Menjelaskan tentang hakikat iman yang menghendaki adanya pembenaran di hati, lisan dan anggota badan serta berbuat ikhlas lillah dalam semua itu.

– Menjelaskan mana rasul yang sesungguhnya dengan orang yang mengaku sebagai rasul padahal bukan rasul.

– Menjelaskan tentang ucapan yang diajarkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada hamba-hamba-Nya.

– Menunjukkan rahmat (kasih sayang) Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan ihsan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberikan nikmat agama yang menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Maka Mahasuci Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menjadikan kitab-Nya sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

[12] Yakni ahli kitab.

[13] Yakni dengan beriman kepada semua kitab dan semua rasul termasuk beriman kepada Al Qur’an dan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tunduk patuh kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[14] Orang yang beriman seperti yang diimani kaum mukmin adalah orang-orang yang mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang mengarah keppada surga. Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk memperoleh petunjuk itu kecuali dengan beriman seperti di atas (ayat 136), tidak seperti yang dinyatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa untuk memperoleh petunjuk harus mengikuti agama Yahudi atau Nasrani. Padahal yang disebut dengan “petunjuk” adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Kebalikannya adalah tersesat baik dengan tidak mengetahui yang hak maupun dengan tidak mengamalkannya setelah mengetahuinya. Keadaan seperti inilah, yakni berpaling dari petunjuk itu yang mengakibatkan mereka berada dalam syiqaq (permusuhan), dan biasanya jika sudah terjadi permusuhan, maka orang yang bermusuhan itu akan berupaya sekuat tenaga mengerahkan kemampuannya untuk menyakiti musuhnya, dan yang mereka musuhi dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjanjikan akan menjaga Beliau dari gangguan mereka; karena Dia mendengar semua pembicaraan dan Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak, yang zhahir maupun yang tersembunyi. Jika demikian, maka cukuplah Allah sebagai penjaga Rasul-Nya dari gangguan musuhnya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memenuhi janji-Nya, Dia menjaga Rasul-Nya dan rasul-Nya berhasil menyampaikan risalahnya semua tanpa ada yang dikurangi sedikit pun. Di dalam ayat ini pun terdapat mukjizat Al Qur’an, di mana Al Qur’an sudah mengabarkan sebelum terjadinya sesuatu dan kenyataannya sesuai dengan yang dikabarkan itu.

[15] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan, bisa juga diartikan fitrah atau agama Allah, yakni “Peganglah agama Allah, di mana Dia menciptakan kalian di atasnya.” Memegang agama Allah ini menghendaki untuk melaksanakan ajaran Islam baik amalan tersebut terkait dengan zhahir maupun batin serta memegang ‘aqidah Islam di setiap waktu sehingga hal itu menjadi shibghah dan sifat yang melekat pada diri seseorang. Jika sudah melekat, tentu kita akan senantiasa tunduk kepada perintah-Nya dengan sikap rela, cinta dan sebagai pilihan bukan karena terpaksa. Pengamalan ajaran Islam pun menjadi tabi’at dirinya seperti celupan yang merubah warna pakaian sebelumnya. Dirinya akan memiliki akhlak mulia, amalan yang indah dan mendahulukan perkara utama. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman dengan rasa takjub yang membuat orang-orang yang berakal terpesona, “siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?” yakni tidak ada yang dapat merubah orang lain sehingga menjadi indah dipandang selain syari’at Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Untuk mengetahui kehebatan shibghah Allah, cobalah bandingkan antara seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, tentu akan membekas dalam dirinya rasa tunduk baik dari hati maupun anggota badannya kepada Allah, ia senantiasa memiliki sifat mulia, seperti jujur lisannya, banyak kebaikannya, sedikit bicara, banyak berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak berlebihan dalam sesuatu selain dalam hal yang memberinya manfa’at seperti ibadah, berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram, tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan wajah yang senang dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya. Kemudian bandingkan dengan seorang yang jauh dari syari’at Allah; akhlaknya buruk seperti suka berdusta, khianat, suka menipu, buruk ucapan dan tindakannya, tidak ikhlas kepada Allah dan tidak suka berbuat ihsan kepada orang lain.

[16] Ayat ini menerangkan tentang bagaimana memperoleh shibghah ini, yaitu dengan melaksanakan dua asas; ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mengapa diambil kesimpulan demikian? Hal itu, karena ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya berupa ucapan dan amalan yang nampak maupun tersembunyi, dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali dengan mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan arti ikhlas adalah tujuan seorang hamba dalam melakukan semua itu untuk mencari keridhaan Allah dan Inilah ibadah.

Pada ayat tersebut ada penggunaan isim fa’il (pelaku), yaitu ‘aabiduun yang menunjukkan tetapnya mereka di atas ibadah tersebut, di atas sifat itu dan hal itu sudah menjadi shibghah (melekat) pada diri mereka.

[17] Yakni kepada ahli kitab.

[18] Berdebat atau disebut dalam bahasa Arab muhaajjaah artinya berdebat dalam masalah yang diperselisihkan, di mana masing-masing pihak berusaha memenangkan pendapatnya dan membatalkan pendapat lawannya. Dalam hal ini, kita diperintahkan dengan cara yang baik, yakni dengan cara yang bisa menarik orang yang tersesat kepada kebenaran dan menegakkan hujjah kepada orang yang susah diajak, menerangkan yang hak dan menjelaskan yang batil. Jika keluar dari hal tersebut, maka ia bukanlah mujadalah (berdebat) tetapi sebagai miraa’ (debat kusir) yang tidak ada kebaikan di dalamnya, dan malah menimbulkan keburukan.

Orang-orang ahli kitab menganggap bahwa mereka lebih dekat dengan Allah daripada kaum muslim. Anggapan jelas membutuhkan bukti dan dalil. Padahal Tuhan semua manusia hanya satu yaitu Allah, Dia bukan Tuhan mereka saja, bahkan Tuhan kita juga. Oleh karena itu, kita dan mereka adalah sama, karena membedakan antara hal yang sama tanpa ada sesuatu pembeda adalah batil. Bahkan berbedanya antara yang satu dengan yang lain hanyalah tergantung pengikhlasan amal untuk-Nya semata, dan ternyata keadaan seperti ini hanya ada pada orang-orang mukmin, maka tentu mereka lebih dekat dengan Allah dibanding yang lain. Ikhlas inilah yang membedakan antara wali Allah dengan wali setan. Dalam ayat ini, terdapat petunjuk yang halus cara berdebat dan bahwa masalah itu didasari atas menyamakan hal yang memang sama dan membedakan hal yang memang beda.

[19] Pernyataan ini muncul karena anggapan mereka bahwa mereka lebih dekat (dalam mengikuti) dengan para rasul tersebut (Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya), padahal para rasul tersebut diutus dan wafat sebelum turunnya Taurat dan Injil, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala membantah mereka dengan firman-Nya “Kamukah yang lebih tahu atau Allah“, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyatakan dalam firman-Nya di ayat lain:

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Terj. Ali Imran: 67)

Pertanyaan “ Kamukah yang lebih tahu atau Allah ” meskipun tidak disebutkan secara tegas jawabannya, tetapi pada kata-kata tersebut sudah jelas sekali jawabannya sehingga tidak perlu dijawab sebagaimana kata-kata “Malam itu lebih terang ataukah siang?” atau “Api itu lebih panas ataukah air?” “Syirk lebih baik ataukah tauhid?” dsb.

[20] Syahadah dari Allah ialah persaksian Allah yang disebutkan dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim ‘alaihis salam dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menjumlahkan semua amal yang mereka kerjakan dan akan memberikan balasan terhadapnya.

Demikianlah cara Al Qur’an dalam menerangkan, di dalamnya terdapat wa’d (janji) dan ancaman, targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman), menyebutkan Asma’ul Husna setelah menerangkan hukum, yakni bahwa perkara agama dan pembalasan merupakan atsar (pengaruh) dari nama-nama-Nya.

[22] Dalam ayat di atas terdapat pemutusan hubungan ketergantungan kepada makhluk, iman dan amal mereka tidak bisa dilimpahkan kepada yang lain sebagaimana dosa orang lain tidak dilimpahkan kepadanya. Demikian juga agar kita tidak tertipu oleh nasab, bahkan yang dinilai adalah iman dan amal shalih, bukan amal nenek moyang kita.


Tags: Tafsir Lengkap, Al Quran Digital, Arti Ayat Al Quran, Penjelasan dan Keterangan, Asbabun Nuzul, Ayat Ayat Al Quran, Download Tafsir Al Quran, Tafsir Al Quran, Footnote atau catatan kaki, Tafsir Al Quran Online, Tafsir Quran Indonesia, Terjemahan Al Quran.

0 komentar

Posting Komentar