7/28/2015

TAFSIR SURAT ALI IMRAN AYAT 165-175

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat Yang Ke: 165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, Dan 175.
Lihat juga tafsir ayat sebelumnya disini.

Ayat 165-168: Peristiwa pada perang Uhud, hikmahnya, dan petunjuk bagi kaum mukmin tentang penyakit hati serta obatnya, dan beberapa sifat orang-orang munafik

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٦٥) وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ (١٦٦) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالا لاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلإيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ (١٦٧) الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (١٦٨

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 165-168

165.[1] Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud)[2], padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar)[3], kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[4].

166. Dan apa yang menimpa kamu[5] ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan[6] itu adalah dengan izin (takdir) Allah[7], dan agar Allah mengetahui secara jelas siapa orang-orang yang beriman.

167. Dan agar Allah mengetahui secara jelas siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan[8], “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)[9]“. Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui bagaimana cara berperang, tentulah kami mengikuti kamu”[10]. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan[11]. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya[12]. Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan[13].

168. (Mereka itu) adalah orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang[14], “Sekiranya mereka[15] mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ayat 169-175: Keutamaan syahid di jalan Allah, pahala orang-orang yang mati syahid, membicarakan tentang perang Hamra’ul Asad dan sikap kaum mukmin dalam perang tersebut

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٧٠)يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (١٧١) الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٧٢) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (١٧٣) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (١٧٤) إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٧٥)

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 169-175

169.[16] Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah[17] itu mati[18]; sebenarnya mereka itu hidup[19] di sisi Tuhannya[20] dengan mendapat rezeki.

170. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya[21], dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[22], bahwa tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.

171. Mereka bergirang hati dengan nikmat[23] dan karunia[24] dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman[25].

172. (yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar[26].

173. (yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang[27] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, ternyata ucapan itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung”.

174. Maka mereka pulang dengan membawa nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar[28].

175. Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku[29], jika kamu orang-orang yang beriman.


[1] Ayat ini merupakan hiburan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, ketika mereka tertimpa musibah kekalahan dalam Perang Uhud. Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ketika akan terjadi perang Badar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan para sahabatnya yang jumlahnya tiga ratus orang lebih, dan memperhatikan kaum musyrik yang jumlahnya seribu orang lebih. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke kiblat dan mengangkat tangannya yang ketika itu selendang dan kain berada di pundaknya, Beliau berdoa, “Ya Allah, manakah janji yang Engkau janjikan. Ya Allah, penuhilah janji Engkau kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya jika Engkau membinasakan rombongan kaum muslimin ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.” Beliau senantiasa memohon kepada Tuhannya Azza wa Jalla dan berdoa sampai selendangnya jatuh, lalu Abu Bakar datang dan mengambilkan selendangnya kemudian menaruh kembali, lalu memeluknya dari belakang. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, Dia akan memenuhi janji-Nya kepadamu.” Ketika itulah Allah menurunkan ayat, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” (Al Anfaal: 9) Ketika pasukan bertemu, maka Allah mengalahkan kaum musyrik. Tujuh puluh orang di antara mereka terbunuh, sedangkan tujuh puluh orang lagi tertawan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan Abu Bakar, Ali dan Umar radhiyallahu ‘anhum, lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, mereka adalah putera-putera pamanmu, keluarga dan saudara. Menurutku, Engkau ambil saja tebusan dari mereka, sehingga apa yang kita ambil dapat memperkuat kita melawan orang-orang kafir, dan mudah-mudahan Allah memberi mereka hidayah sehingga mereka menjadi penolong kita.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apa pendapatmu wahai Ibnul Khaththab, ” Aku (Umar) menjawab, “Demi Allah, pendapatku tidak seperti pendapat Abu Bakar. Menurutku, Engkau serahkan fulan yang menjadi kerabat Umar, lalu aku penggal lehernya. Engkau serahkan kepada Ali si ‘Uqail, agar Ali memenggal lehernya, dan Engkau serahkan fulan yang menjadi saudara Hamzah kepada Hamzah agar ia memenggal lehernya, agar Allah mengetahui bahwa tidak ada lagi dalam hati kita sikap lembut kepada kaum musyrik. Mereka adalah pahlawan, tokoh dan pemimpin mereka (kaum musyrik).” Nampaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan tidak suka pendapatku, maka Beliau mengambil tebusan dari mereka. Pada esok harinya, Umar berkata, “Aku pergi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata Beliau sedang duduk, demikian pula Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan ternyata keduanya menangis. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku apa yang membuat Engkau dan kawanmu menangis. Jika aku menemukan sebab menangis, maka aku akan menangis, tetapi jika aku tidak temukan, maka aku akan memaksakan diri menangis karena engkau berdua menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang menawarkan tebusan kepada tawananmu, sesungguhnya telah menawarkan untuk diazab yang lebih dekat dari pohon ini kepada pehon terdekatnya.” Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. …sampai ayat, “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena apa yang kamu ambil.” (Terj. Al Anfaal: 67-68) Yakni berupa tebusan. Setelah itu, Allah menghalalkan ghanimah kepada mereka. Di tahun depan, yaitu pada peperangan Uhud, mereka mendapat hukuman karena perbuatannya pada peperangan Badar, yaitu karena mengambil tebusan. Oleh karena itu, tujuh puluh di antara mereka terbunuh, dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarikan diri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan gigi Beliau pecah, demikian pula penutup kepala Beliau, serta mengalir darah pada wajah Beliau, maka Allah menurunkan ayat, “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat ” Yakni dengan mengambil pula tebusan. (Hadits ini para perawinya adalah para perawi kitab shahih, Ibnu Katsir dan As Suyuthi menyandarkannya kepada Ibnu Abi Hatim, namun menyebutkan secara secara ringkas.”)

[2] Dengan terbunuhnya 70 orang di kalangan kamu.

[3] Dengan membunuh 70 orang dan menawan 70 orang dari kalangan mereka. Di samping itu, orang-orang yang terbunuh dari kalangan tempatnya di surga, sedangkan orang-orang yang terbunuh dari kalangan mereka tempatnya di neraka.

[4] Oleh karena itu, jauhilah bersangka buruk kepada Allah, karena Dia sesungguhnya mampu menolong kamu, akan tetapi Dia memiliki hikmah mengapa menguji kamu dan menimpakan musibah.

[5] Berupa kekalahan dan terbunuh.

[6] Yakni pada Perang Uhud.

[7] Taqdir jika berjalan, maka tidak ada yang dapat menolaknya, sikap yang harus dilakukan adalah tunduk dan menerima. Apalagi, Allah tidaklah menaqdirkan sesuatu kecuali karena hikmah dan faedah yang besar. Di antara hikmahnya adalah dengan ketetapan itu, nampak jelaslah siapa orang mukmin dan siapa orang munafik.

[8] Ketika mereka pulang tidak jadi berperang. Mereka ini adalah kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay.

[9] Yakni jagalah kampung halamanmu. Dari perkataan ini muncul kaidah, ”

ارتكاب اخف المفسدتين لدفع أعلاهما وفعل أدنى المصلحتين للعجز عن أعلاهما

“Mengerjakan mafsadat yang paling ringan untuk menolak mafsadat yang lebih besar dan melakukan maslahat ringan karena tidak sanggup mengambil maslahat besar.”

Hal itu, karena kaum munafik diajak berperang, namun mereka menolaknya, maka mereka diajak kepada perkara yang ringan, yaitu melindungi keluarga dan kampung halaman.

[10] Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagai ejekan, karena mereka memandang bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu taktik berperang, sebab beliau melakukan peperangan ketika jumlah kaum muslimin sedikit. Ucapan ini digunakan untuk mengelakkan celaan yang ditujukan kepada diri orang-orang munafik sendiri.

[11] Karena memperlihatkan sikap membiarkan kaum mukmin, tidak menolong mereka.

[12] Kalau pun mereka mengetahui bagaimana cara berperang, mereka juga tidak akan mengikuti kamu.

[13] Berupa kemunafikan. Oleh karena itu, Allah menampakkannya kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan menghukum mereka (kaum munafik) karenanya.

[14] Mereka menggabung antara sikap tidak ikut berperang dengan sikap protes dan mendustakan qadha’ Allah dan qadar-Nya. Dari ayat di atas kita mengetahui, bahwa seseorang kadang terdapat perkara kufur dan perkara iman, dan terkadang ia lebih cenderung ke salah satunya.

[15] Para syuhada’ Uhud.

[16] Ayat ini turun tentang keadaan para syuhada’. Di dalamnya terdapat keutamaan para syuhada’ dan keistimewaan mereka serta karunia dan ihsan Allah yang diberikan kepada mereka. Dalam ayat ini, terdapat hiburan bagi orang-orang yang masih hidup agar tidak bersedih terhadap kawan-kawan mereka yang telah meninggal, dan menyemangatkan mereka untuk berperang di jalan Allah serta siap untuk syahid. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika saudara kamu tertimpa musibah di perang Uhud, Allah Azza wa Jalla menjadikan ruh mereka dalam tembolok burung hijau yang mendatangi sungai-sungai surga yang memakan buahnya, dan pergi menuju beberapa lampu emas yang berada di bawah naungan ‘Arsy. Ketika mereka mendapatkan nikmatnya minuman, makanan dan nikmatnya tempat pulang mereka, mereka berkata, “Seandainya saudara-saudara kita mengetahui apa yang diberikan Allah kepada kita agar mereka tidak benci kepada jihad dan tidak mundur dari peperangan.” Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku akan menyampaikan kepada mereka perihal kalian.” Maka Allah menurunkan beberapa ayat kepada Rasul-Nya, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup.” Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan Hamzah dan kawan-kawannya.” Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak menyebutkan, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi.”

Thabari meriwayatkan dari Anas bin Malik tentang para sahabat yang dikirim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk Bi’ruma’unah (sumur Ma’unah), ia berkata, “Saya tidak mengetahui apakah jumlah mereka 40 atau 70 orang. Di dekat sumur tersebut ada ‘Amir bin Thufail Al Ja’fariy, maka datanglah beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke gua yang mengarah kepada sumur tersebut, lalu mereka duduk di sana dan sebagian mereka bertanya kepada yang lain, “Siapakah di antara kamu yang mau menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk sumur ini?” Di antara mereka ada yang mengusulkan, “Menurut saya adalah Abu Milhaan Al Anshaariy.” (Ia berkata), “Saya akan menyampaikan risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Abu Milhan keluar dan mendatangi salah satu suku mereka lalu mendekati rumah-rumah mereka dan berkata, “Wahai penduduk Bi’ruma’unah! Sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu keluarlah seorang laki-laki dari pinggir rumah dengan membawa tombaknya, kemudian ia tusukkan tombak itu ke pinggir badannya hingga menembus ke pinggirnya lagi. Ia (Abu Milhan) berkata, “Allahu akbar! Aku beruntung, demi Tuhan pemilik ka’bah.” Maka penduduk Bi’ruma’unah mengikuti jejaknya sehingga bertemu dengan para sahabat Abu Milhan, lalu ‘Amir bin Thufail membunuh mereka semua. Ishaq (perawi hadits ini) berkata, “Telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik, bahwa Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an berkenaaan dengan mereka yang diangkat setelah kami baca beberapa waktu, dan Allah menurunkan ayat, “Wa laa tahsabannalladziina qutiluu fii sabilillahi amwaataa bal ahyaaa’un ‘inda rabbihim yurzaquun.” (Hadits ini disebutkan Ibnu Jarir dalam At Tarikh juz 3 hal. 36, dalam hadits tersebut diterangkan bahwa sebab turunnya ayat tersebut adalah berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh di Bi’ruma’unah.) Imam Syaukani berkata, “Bagaimana pun keadaannya, ayat tersebut berdasarkan keumumannya mengena kepada setiap orang yang mati syahid.”

[17] Dengan maksud meninggikan kalimatullah.

[18] Yakni janganlah ada anggapan dalam hatimu bahwa mereka itu mati, hilang kenikmatan hidup di dunia, bahkan mereka mendapatkan kenikmatan yang lebih besar lagi daripada kenikmatan hidup di dunia.

[19] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu. Di dalam hadits disebutkan bahwa ruh para syuhada berada dalam tembolok burung hijau yang berterbangan di surga sesuai yang mereka inginkan dan memakan buah-buahan surga.

[20] Dalam kata-kata “di sisi Tuhannya” menunjukkan tingginya derajat mereka dan dekatnya mereka dengan Allah.

[21] Mereka memperoleh kenikmatan yang sempurna, baik bagi badan mereka berupa rezeki, maupun bagi hati dan ruh mereka berupa kegembiraan.

[22] Maksudnya ialah kawan-kawannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Kawan-kawan mereka akan memperoleh seperti yang mereka peroleh.

[23] Yakni pahala.

[24] Tambahan terhadap pahala.

[25] Bahkan akan memberinya pahala dan menambahnya. Dalam ayat ini terdapat penetapan adanya nikmat di alam barzakh, dan bahwa para syuhada berada di tempat yang sangat tinggi di sisi Tuhan mereka, di sana ruh-ruh orang-orang yang berbuat kebaikan saling bertemu, saling menziarahi dan menyampaikan berita gembira.

[26] Yaitu surga.

[27] Maksudnya: orang-orang Quraisy.

[28] Ayat 172, 173, dan 174, di atas membicarakan tentang Peristiwa perang Badar Shughra (Badar kecil) yang terjadi setahun setelah Perang Uhud. Sewaktu meninggalkan perang Uhud itu, Abu Sufyan pemimpin orang Quraisy menantang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahwa dia bersedia bertemu kembali dengan kaum muslimin pada tahun berikutnya di Badar. Tetapi karena tahun itu (4 H) musim paceklik dan Abu Sufyan sendiri merasa takut, maka dia beserta tentaranya tidak jadi meneruskan perjalanan ke Badar, lalu dia menyuruh Nu’aim bin Mas’ud dan kawan-kawan pergi ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan kabar bohong, seperti yang disebutkan dalam ayat 173. Namun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat tetap maju ke Badar. Oleh karena tidak terjadi perang, dan pada waktu itu di Badar sedang musim pasar, maka kaum muslimin melakukan perdagangan dan memperoleh laba yang besar. Keuntungan ini mereka bawa pulang ke Madinah seperti yang disebutkan pada ayat 174.

[29] Dalam ayat ini terdapat perintah untuk takut hanya kepada-Nya saja dan bahwa hal itu termasuk konsekwensi keimanan. Takutnya seorang hamba kepada Allah sejauh mana keimanannya dan takut yang terpuji adalah takut yang menghalangi hamba dari berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla.

Tags: Tafsir Lengkap Al Quran Online Indonesia, Surat Ali Imran, Terjemahan Dan Arti Ayat Al Quran Digital, Penjelasan dan Keterangan, Asbabun Nuzul, Download Tafsir Al Quran, Footnote atau catatan kaki.

0 komentar

Posting Komentar